SURAKARTA – Sampah rumah tangga tidak harus berakhir sebagai tumpukan di Tempat Pemrosesan Akhir. Jika dipilah dan diolah dengan benar, sampah organik dapat diubah menjadi kompos, pupuk cair, serta beragam produk yang memiliki nilai ekonomi.
Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Surakarta Respati Ardi ketika membuka Workshop Sosialisasi Pemilahan Sampah Organik dan Bimbingan Teknis 10 Program Pokok PKK di Kantor Kelurahan Manahan, Kamis (6/8/2026).
Menurut Respati, kebiasaan memilah sampah perlu dimulai dari tingkat keluarga. Tim Penggerak PKK diharapkan menjadi penggerak utama karena para kader memiliki jangkauan luas dan berhubungan langsung dengan aktivitas rumah tangga.
“Saya yakin kalau gerakan ini dimulai dari ibu-ibu, tingkat keberhasilannya tinggi. Ibu-ibu adalah pelaku utama yang akan memberi contoh kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya,” katanya.
Respati menjelaskan, pola kumpul-angkut-buang sudah tidak memadai untuk menjawab persoalan sampah perkotaan. Penambahan kapasitas TPA juga hanya menjadi solusi sementara apabila tidak diikuti pengurangan sampah dari sumbernya.
Pemkot Surakarta karena itu mendorong pemilahan sampah organik dan anorganik serta pemanfaatan kembali limbah rumah tangga. Sebagian Dana Pembangunan Kelurahan telah dialokasikan untuk mendukung kelompok masyarakat yang menjalankan pengolahan sampah berbasis lingkungan.
“Darurat sampah ini harus bisa menjadi rupiah. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk cair, kompos, maupun produk lainnya yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Respati.
Pemerintah daerah juga berencana memperkuat ekosistem pemasaran produk olahan sampah agar kegiatan tersebut memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, warga diharapkan mulai memandang sampah sebagai sumber daya. Langkah ini sekaligus menjadi jalan untuk mengurangi beban TPA, menjaga lingkungan, dan mengembangkan ekonomi sirkular di tingkat kelurahan.
