YOGYAKARTA – Pertemuan gamelan dengan tradisi musikal Pasifik menjadi salah satu eksplorasi dalam Indonesia–Pacific Cultural Connect 2026 di Yogyakarta. Sebanyak 47 seniman dari Indonesia dan delapan negara Pasifik terlibat dalam kegiatan yang berlangsung selama 10 hari tersebut.
Para peserta terdiri atas 30 seniman dari sembilan provinsi di Indonesia dan 17 seniman dari negara-negara Pasifik. Bersama budayawan serta kurator, mereka mengeksplorasi keberagaman tradisi untuk menghasilkan karya seni bersama.
Rangkaian kegiatan itu ditutup di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Rabu (14/10/2026). Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi atas kemampuan para peserta memadukan beragam tradisi dalam waktu relatif singkat.
“Cuma 10 hari bisa menunjukkan atraksi seperti ini. Menurut saya keren dan itu menunjukkan bahwa kemampuan seni, budaya, kreasi Kota Yogyakarta, seniman-senimannya, kuratornya sangat mumpuni,” ujar Hasto.
Eksplorasi musik dilakukan dengan mempertemukan gamelan dan tradisi musikal Pasifik sebagai bahan penciptaan ekspresi artistik baru. Perbedaan latar belakang peserta menjadi bagian dari proses kolaborasi yang dikembangkan selama kegiatan.
Selain musik, para seniman melakukan eksplorasi kreatif menggunakan bambu dan material berbasis kelapa. Material tersebut diangkat karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari, tradisi, serta lingkungan masyarakat kepulauan.
Hasto menyatakan Kota Yogyakarta bangga menjadi tuan rumah pertemuan budaya lintas negara tersebut. Ia juga mengapresiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, khususnya Menteri Kebudayaan Fadli Zon, atas terselenggaranya kegiatan itu di Yogyakarta.
Sementara itu, Fadli menjelaskan bahwa Indonesia–Pacific Cultural Connect merupakan upaya memperkuat hubungan budaya Indonesia dengan negara-negara Pasifik. Hubungan tersebut memiliki sejarah panjang melalui tradisi maritim dan pertukaran pengetahuan antarmasyarakat kepulauan.
“Kami menyadari bahwa laut tidak pernah memisahkan kita. Laut selalu menghubungkan rakyat, budaya, dan peradaban kita,” ungkapnya.
Fadli menegaskan, diplomasi budaya perlu mencakup pertukaran pengetahuan, penguatan komunitas, serta pembangunan persahabatan yang berkelanjutan. Menurutnya, kegiatan budaya juga perlu membuka peluang bagi para pelakunya untuk meningkatkan kemampuan dan kehidupan mereka.
Partisipasi dalam ekonomi budaya menjadi bagian dari kesempatan yang perlu dikembangkan. Namun, Fadli menekankan bahwa komunitas pemilik tradisi harus tetap menjadi bagian utama dalam proses tersebut agar pengembangan kebudayaan terus melibatkan masyarakat yang memiliki dan menjalankannya.
