Tribun Solo
KLATEN – Pemberitaan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo memunculkan beragam tanggapan di media sosial. Di tengah sorotan terhadap perkara tersebut, analisis Citra Kreasi Data menyebut komentar bernada dukungan dan empati masih mendominasi percakapan yang mereka himpun.
Direktur Citra Kreasi Data, Paras Sujiwo, dalam tulisan analisisnya menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan menggunakan CitraTrack, perangkat analitik media sosial yang dikembangkan perusahaan konsultan media berbasis di Depok, Jawa Barat, tersebut.
Dari ribuan komentar yang dianalisis, CitraTrack mencatat 62 persen sentimen positif, 7 persen negatif, dan 31 persen netral. Persentase itu merupakan hasil pembulatan.
Komentar positif mencakup dukungan dan empati terhadap Hamenang. Sementara itu, kategori negatif meliputi kritik, hujatan, maupun serangan pribadi. Komentar yang tidak tergolong dalam kedua kelompok tersebut dimasukkan ke kategori netral.
Menurut Paras, dominasi sentimen positif berkaitan dengan citra personal Hamenang yang telah terbentuk sebelum pemberitaan OTT. Sebagian warganet menggambarkan kepala daerah yang akrab disapa Mas Bupati itu sebagai sosok ramah, dekat dengan masyarakat, dan kerap menghadiri kegiatan warga.
Kedekatan tersebut, dalam pembacaan Paras, turut memengaruhi cara sebagian pengguna media sosial merespons pemberitaan mengenai Hamenang. Dukungan yang sebelumnya terbentuk tidak langsung hilang ketika muncul peristiwa hukum.
Selain faktor kedekatan, Paras mencatat adanya komentar yang mempertanyakan latar belakang perkara dan mengaitkannya dengan dinamika politik. Pandangan tersebut merupakan persepsi warganet dalam percakapan yang dianalisis, bukan kesimpulan mengenai penyebab OTT ataupun fakta yang membuktikan keterlibatan pihak tertentu.
Dalam perhitungan yang disebutnya sebagai pendekatan approval rating sederhana, Paras mengurangi persentase sentimen positif dengan sentimen negatif sehingga memperoleh selisih 55 poin persentase.
Meski demikian, selisih sentimen tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan tingkat persetujuan seluruh masyarakat Klaten maupun peluang kemenangan dalam pemilihan kepala daerah. Analisis komentar media sosial memiliki cakupan berbeda dengan survei terhadap pemilih.
Naskah analisis yang disampaikan juga belum merinci platform yang dipantau, periode pengumpulan data, jumlah pasti komentar, serta mekanisme penentuan lokasi pengguna dan validasi klasifikasi sentimen. Rincian tersebut diperlukan untuk menilai jangkauan temuan.
Paras menilai hasil pemantauan itu memperlihatkan besarnya pengaruh hubungan personal seorang pemimpin dengan masyarakat dalam pembentukan persepsi publik. Pengalaman warga ketika berinteraksi dengan kepala daerah dapat menjadi pertimbangan saat mereka menerima pemberitaan baru.
Dukungan di media sosial sendiri tidak menentukan pembuktian perkara. Proses hukum terhadap Hamenang tetap harus dinilai berdasarkan bukti dan pemeriksaan melalui mekanisme yang berlaku, dengan menjunjung asas praduga tak bersalah.
