Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani (Pemkot Yogyakarta)
YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat transformasi digital di pasar rakyat melalui program Beringharjo Great Sale (BGS). Puncak kegiatan ditandai dengan pengundian hadiah BGS yang berlangsung di Atrium Pasar Beringharjo, Selasa (26/5/2026).
Program tahunan yang diinisiasi Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta melalui UPT Pusat Bisnis tersebut bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai sponsor utama serta Bank BPD DIY. Program ini difokuskan untuk meningkatkan transaksi ekonomi pasar rakyat melalui penggunaan pembayaran non tunai.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, mengatakan Beringharjo Great Sale menjadi salah satu langkah percepatan adaptasi digitalisasi di kalangan pedagang pasar sekaligus mendorong masyarakat semakin terbiasa menggunakan transaksi digital.
“Event ini bertujuan untuk mempercepat adaptasi digitalisasi pasar di kalangan pedagang dan mendorong penggunaan transaksi digital secara luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan BGS berlangsung selama kurang lebih empat bulan, mulai 15 Desember 2025 hingga 30 April 2026. Program tersebut tidak hanya melibatkan pedagang Pasar Beringharjo, tetapi juga sejumlah pasar rakyat lain seperti Pasar Kranggan, Pasar Ngasem, Pasar Prawirotaman dan PASTY.
Melalui program tersebut, pedagang dan pembeli didorong memanfaatkan pembayaran non tunai baik melalui QRIS maupun EDC BSI. Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyediakan berbagai hadiah bagi pengguna transaksi digital, mulai dari sepeda motor matic, sepeda listrik, kulkas, mesin cuci, smart TV, smartphone hingga voucher belanja.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, menyebut digitalisasi pasar rakyat menjadi kebutuhan agar pasar tradisional mampu mengikuti perubahan pola konsumsi masyarakat dan wisatawan.
“Hari ini masyarakat semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital. Wisatawan juga datang dengan pola belanja yang semakin modern. Maka pasar rakyat tidak boleh tertinggal,” katanya.
Menurut Dedi, pelaksanaan BGS tahun ini menunjukkan hasil positif. Rata-rata pertumbuhan transaksi non tunai selama periode kegiatan melalui QRIS BSI mencapai 26,65 persen. Sementara estimasi transaksi non tunai secara keseluruhan di pasar rakyat peserta BGS mencapai rata-rata Rp14,9 miliar per bulan atau hampir Rp60 miliar selama empat bulan pelaksanaan.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan kemampuan pedagang pasar rakyat dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi transaksi keuangan. Selain memudahkan proses pembayaran, transaksi digital juga dinilai membantu pedagang memiliki pencatatan usaha yang lebih tertata sehingga mempermudah pengembangan usaha maupun akses pembiayaan.
Dalam kesempatan itu, penghargaan diberikan kepada paguyuban pasar dengan volume transaksi digital terbanyak, yakni Pasar Prawirotaman, Pasar Beringharjo dan PASTY.
Perwakilan Paguyuban Pasar Prawirotaman, Untung Suparno, mengaku program digitalisasi membawa dampak positif bagi pedagang pasar.
“Alhamdulillah mereka senang. Ternyata memang menguntungkan. Kita bisa transaksi, bisa jualan dengan pembayaran non tunai seperti sekarang,” ucapnya.
Melalui kolaborasi pemerintah, perbankan, pengelola pasar dan paguyuban pedagang, Pemkot Yogyakarta berharap pasar rakyat semakin kuat sebagai pusat ekonomi, interaksi sosial sekaligus destinasi belanja dan wisata di Kota Yogyakarta.
