Di tengah dunia yang semakin cepat, semakin online, dan semakin bising, muncul fenomena menarik di kalangan generasi muda: keinginan untuk kembali ke sesuatu yang lebih lambat, lebih nyata, dan lebih manusiawi.
Beberapa tahun lalu, hidup digital dianggap sebagai simbol kemajuan. Semua orang berlomba tampil aktif di media sosial, selalu terkoneksi, selalu update tren terbaru. Namun kini, sebagian anak muda justru mulai merasa lelah.
Mereka mulai bosan hidup di depan layar.
Fenomena ini terlihat dari banyak perubahan gaya hidup yang perlahan muncul di berbagai kota, termasuk Jogja. Coffee shop tanpa wifi mulai diminati. Toko kaset dan kamera analog kembali ramai. Buku fisik kembali diburu. Aktivitas seperti lari pagi, camping, naik gunung, hingga sekadar duduk lama tanpa membuka ponsel mulai dianggap sebagai bentuk “kemewahan baru”.
Bukan karena teknologi ditinggalkan sepenuhnya, tetapi karena manusia mulai sadar bahwa otak dan emosinya tidak dirancang untuk terus menerus menerima banjir informasi.
Setiap hari, media sosial memaksa orang melihat kehidupan orang lain tanpa jeda. Ada tuntutan untuk tampil menarik, produktif, sukses, lucu, estetik, sekaligus relevan. Semua terjadi dalam satu waktu. Akibatnya, banyak anak muda mengalami kelelahan mental yang sulit dijelaskan.
Ironisnya, semakin terkoneksi, semakin banyak orang merasa kosong.
Di Jogja sendiri, gejala ini terasa cukup kuat. Banyak anak muda mulai mencari ruang yang lebih sunyi dan personal. Mereka datang ke desa-desa, menikmati suasana rumah kayu, mendengarkan musik lawas, atau sekadar menghabiskan malam tanpa hiruk pikuk notifikasi.
Estetika “slow living” menjadi populer bukan semata karena visualnya menarik, tetapi karena ada kebutuhan psikologis di baliknya. Orang ingin kembali merasa hadir dalam hidupnya sendiri.
Fenomena ini juga menjelaskan kenapa benda-benda lama kembali diminati. Kamera digital lawas, mesin ketik, radio tua, hingga kaset pita kini kembali punya tempat di hati generasi muda. Ada sensasi fisik dan emosional yang tidak bisa diberikan oleh dunia digital yang serba instan.
Memutar kaset membutuhkan proses. Memotret dengan kamera analog membuat orang lebih sabar. Membaca buku fisik membuat fokus terasa lebih utuh. Semua itu menghadirkan pengalaman yang lebih nyata dibanding sekadar scrolling tanpa akhir.
Di sisi lain, banyak anak muda mulai menyadari bahwa algoritma media sosial perlahan membentuk cara berpikir mereka. Selera, emosi, bahkan perhatian manusia kini diperebutkan setiap detik. Tidak sedikit yang akhirnya merasa hidupnya terlalu dikendalikan layar.
Karena itu, sebagian generasi muda mulai melakukan “perlawanan kecil”. Mereka mengurangi waktu online, membatasi media sosial, atau sengaja mencari aktivitas offline untuk menjaga kewarasan mentalnya.
Fenomena ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: manusia modern ternyata tetap membutuhkan keheningan.
Dan di tengah dunia yang semakin digital, mungkin sesuatu yang paling langka hari ini bukan teknologi baru, melainkan kemampuan untuk benar-benar hadir tanpa distraksi.
