{"id":52,"date":"2026-05-11T09:36:41","date_gmt":"2026-05-11T09:36:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jogjahype.com\/?p=52"},"modified":"2026-05-11T09:36:42","modified_gmt":"2026-05-11T09:36:42","slug":"paras-sujiwo-sambangi-empu-aji-guno-anom-besalen-mageti-jadi-ruang-menjaga-roso-keris-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/2026\/05\/11\/paras-sujiwo-sambangi-empu-aji-guno-anom-besalen-mageti-jadi-ruang-menjaga-roso-keris-jawa\/","title":{"rendered":"Paras Sujiwo Sambangi Empu Aji Guno Anom, Besalen Mageti Jadi Ruang Menjaga Roso Keris Jawa"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>MAGETAN<\/strong> \u2014 Di tengah dunia modern yang bergerak cepat dan semakin digital, sebuah besalen tradisional di lereng Gunung Lawu masih menjaga ritme lama yang nyaris hilang dari kehidupan hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bara api menyala di tungku tempa. Denting besi terdengar bersahutan di ruangan sederhana yang dipenuhi aroma logam panas dan arang kayu. Di tempat seperti inilah tradisi perkerisan Jawa tetap hidup, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang perenungan batin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suasana itu yang ditemui Paras Sujiwo saat berkunjung ke kediaman Empu Aji Guno Anom Mageti V di Desa Kedungpanji, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada 9 Mei 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sosok yang dikenal sebagai teknokrat budaya sekaligus kolektor keris asal Klaten tersebut datang untuk berdialog langsung mengenai dunia tosan aji yang masih dijaga secara turun-temurun di lereng timur Gunung Lawu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertemuan berlangsung di dalam besalen, rumah tempa tradisional tempat sebilah keris lahir melalui perpaduan antara keterampilan tangan, konsentrasi rasa, dan laku spiritual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Empu Aji Guno Anom yang memiliki nama asli Muhammad Teguh Budi Santoso dikenal sebagai salah satu empu Mageti yang kerap didatangi para pejabat tinggi, tokoh nasional, hingga pengusaha besar pecinta keris Nusantara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Empu Teguh, keris bukan sekadar benda pusaka atau senjata tradisional. Ia memandang keris sebagai simbol perjalanan batin manusia Jawa dan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, keris memiliki dua sisi utama, yakni dimensi lahiriah dan batiniah. Dimensi lahiriah terlihat dari bentuk, pamor, serta keindahan visualnya. Sedangkan dimensi batiniah berkaitan dengan energi, filosofi, doa, dan karakter spiritual yang menyertai proses penciptaannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menilai banyak orang hanya terpaku pada bentuk fisik keris, padahal inti pusaka justru berada pada \u201croso\u201d yang terkandung di dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi perkerisan Jawa, seorang empu tidak hanya dituntut mahir menempa logam. Ia juga menjalani laku spiritual melalui roso cipto, ketekunan batin, dan pinuwunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, sebilah keris dipandang bukan sebagai hasil kerja mekanis semata, melainkan perpaduan antara keterampilan, penghayatan rasa, dan doa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Empu Teguh menjelaskan, kualitas sebuah keris tidak hanya ditentukan oleh material ataupun keindahan bentuknya, tetapi juga oleh \u201cisi\u201d yang dipercaya lahir dari niat dan karakter pembuatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada keris yang tampak sederhana namun diyakini memiliki energi besar. Sebaliknya, ada pula keris yang indah secara visual tetapi kosong secara spiritual. Dalam beberapa kasus, keris yang dibuat khusus bahkan dipercaya dapat mencerminkan watak pemesannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, dunia keris tidak pernah selesai dibahas. Ia bergerak di antara seni, budaya, spiritualitas, simbol, dan psikologi manusia Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Empu Aji Guno Anom sendiri merupakan putra dari Paku Rodji, empu legendaris Magetan yang dikenal luas di kalangan pecinta tosan aji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paku Rodji disebut sebagai keturunan ke-16 Mpu Supodriyo melalui jalur Dewi Rasa Wulan, adik Sunan Kalijaga. Trah tersebut dipercaya telah menjaga tradisi empu sejak masa akhir Majapahit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sejarah perkerisan Mageti, salah satu pusaka paling dikenal adalah keris Kiai Bondoyudo milik Pangeran Diponegoro yang dibuat oleh Mpu Guno Sasmito Utomo atau Ki Ageng Mageti pada era Mageti I.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini, amanah sebagai penerus tradisi berada di tangan Teguh Budi Santoso yang dikenal sebagai Mpu Mageti V. Amanah itu diterimanya setelah sang ayah wafat dan meninggalkan sejumlah pesanan keris yang belum selesai dikerjakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mengenang pesan sang ayah bahwa menjadi empu bukan sekadar profesi, melainkan tugas hidup yang harus dijalani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski dunia keris sering dikaitkan dengan hal-hal mistik, Empu Teguh menegaskan bahwa pusaka tidak boleh ditempatkan secara berlebihan. Menurutnya, keris hanyalah sarana kontemplasi agar manusia lebih mengenal diri dan mendekat kepada Sang Pencipta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Empu Teguh, keris juga merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa yang harus terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah kehidupan modern yang penuh distraksi dan serba instan, dunia perkerisan justru menghadirkan nilai yang semakin jarang ditemukan hari ini: kesabaran, ketelitian, pengendalian diri, dan kedalaman rasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAGETAN \u2014 Di tengah dunia modern yang bergerak cepat dan semakin digital, sebuah besalen tradisional di lereng Gunung<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[33,32],"tags":[35,34,36,37],"post_badge":[],"class_list":["post-52","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kebudayaan","tag-empu-aji-guno-anom-mageti","tag-keris","tag-paras-sujiwo","tag-teknokrat-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52\/revisions\/54"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52"},{"taxonomy":"post_badge","embeddable":true,"href":"https:\/\/jogjahype.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/post_badge?post=52"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}