YOGYAKARTA – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang mencapai kisaran Rp17.700 per dolar memunculkan tantangan sekaligus peluang bagi Kota Yogyakarta. Di satu sisi, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan biaya produksi yang meningkat. Di sisi lain, kondisi ini berpotensi mendorong pertumbuhan sektor pariwisata melalui peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.
Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, M. Sofyan, menilai pemerintah daerah perlu segera menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi dampak pelemahan Rupiah terhadap pelaku usaha lokal.
Menurutnya, sektor UMKM yang menggunakan bahan baku impor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Salah satu contohnya adalah industri tahu dan tempe yang masih mengandalkan pasokan kedelai dari luar negeri.
“Yang terdampak secara langsung tentu para pelaku UMKM yang bahan bakunya masih impor,” ujar Sofyan, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan, Komisi B DPRD Kota Yogyakarta telah mendiskusikan sejumlah skema intervensi kebijakan guna membantu pelaku usaha menghadapi kenaikan harga bahan baku. Langkah tersebut dinilai penting agar aktivitas produksi tetap berjalan dan tidak mengganggu keberlangsungan usaha masyarakat.
Sofyan menegaskan bahwa dukungan pemerintah melalui kebijakan dan pengalokasian anggaran menjadi faktor penting dalam menghadapi situasi tersebut. Jika kondisi dinilai mendesak, intervensi melalui APBD Perubahan 2026 dapat menjadi salah satu opsi yang diprioritaskan.
Meski demikian, ia melihat pelemahan Rupiah tidak hanya menghadirkan dampak negatif. Kondisi nilai tukar saat ini dinilai dapat menjadi momentum bagi Yogyakarta untuk menarik lebih banyak wisatawan asing.
Dengan biaya berwisata yang relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara, Yogyakarta memiliki peluang untuk meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperkuat sektor ekonomi kreatif dan usaha berbasis pariwisata.
Karena itu, DPRD mendorong pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah terkait untuk lebih agresif melakukan promosi destinasi wisata serta memperbanyak agenda festival budaya, seni, dan kegiatan kreatif yang mampu menarik minat wisatawan.
Menurut Sofyan, peningkatan jumlah wisatawan yang datang dan tinggal lebih lama di Yogyakarta akan berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Pelaku UMKM di sektor kuliner, kerajinan, fesyen, hingga pusat oleh-oleh berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas wisata.
“Wisatawan asing akan memiliki daya beli yang lebih besar ketika berbelanja di Indonesia saat Rupiah melemah. Ini menjadi peluang yang harus dimanfaatkan,” katanya.
DPRD Kota Yogyakarta berharap pemerintah mampu menjalankan strategi yang seimbang, yakni memberikan perlindungan kepada UMKM yang terdampak gejolak kurs sekaligus mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah dan sumber peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
